Home / Artikel / Self / Table Talk #01: What Trauma Does to Your Heart

Table Talk #01: What Trauma Does to Your Heart

by Melita Rahmalia Minggu, 08 Jul 2018 18:17 150 - Self

bg-reg

Menjadi seorang CeweQuat bukan berarti menjadi seseorang yang nggak butuh teman curhat dan diskusi masalah, kan ya? Nah, karena komunitas CeweQuat paham banget kalau semua cewek sekuat apapun pasti butuh teman ngobrol yang aman dan positif, salah satu inisiatif yang dilakukan adalah dengan mengadakan Table Talk.

Table Talk dimaksudkan sebagai wadah para anggota CeweQuat untuk menemukan tempat yang aman dan positif untuk mendiskusikan masalahnya. Salah satu topik yang penting banget untuk komunitas ini adalah mengelola hati yang sempat mengalami trauma. Trauma ini bisa dari berbagai hal, terutama abuse. Abuse termasuk segala perbuatan kekerasan, baik secara verbal (dicaci-maki, direndahkan, dsb), emosional atau psikologis (diancam, diintimidasi, dipermalukan, didiamkan, tidak dianggap ada dan penting), sampai fisik (dipukuli, ditampar, diperkosa, dipaksa melakukan tindakan seksual).  

Baik verbal abuse dalam berbagai bentuknya (seperti bullying, contoh yang paling sering kita temui), sampai physical abuse (seperti pemerkosaan), semuanya sempat dirasakan oleh berbagai anggota CeweQuat. Menurut Bunga Mega, founder komunitas CeweQuat, hampir setengah dari koresponden yang diterimanya dari para anggota menceritakan tentang trauma mereka yang pernah mengalami dating violence, sexual abuse, dan sebagainya. Sebagai salah satu topik yang paling sering ditemui, penting rasanya jika efek trauma dari perbuatan kekerasan (abuse) menjadi topik pertama yang dibahas untuk acara Table Talk.

Table Talk CeweQuat ini biasanya ditangani oleh 1 orang relawan CeweQuat yang siap menjadi moderator. Tugasnya, selain menjadi timekeeper dan host acara, juga menjadi fasilitator diskusi hangat yang berlangsung. Di sesi Table Talk pertama yang diadakan di Plaza Semanggi pada tanggal 30 Juni 2018 yang dihadiri oleh penulis, Devina Wijaya, salah satu relawan CeweQuat, terbukti menjadi fasilitator yang handal. Kepribadiannya yang tenang namun tetap mampu hangat menciptakan suasana yang nyaman untuk para peserta yang hadir mulai bercerita dan membuka diri.

Dimulai dengan perkenalan nama dan ice breaking session, di ice breaking session ini setiap peserta diwajibkan mengambil kertas dari toples “Enjoy the Little Things”. Secara bergantian, peserta menjawab pertanyaan-pertanyaan yang sedikit memberitahu teman-teman yang hadir tentang dirinya. Misalnya saja: apa jurusan kuliah kamu, apa makanan yang paling tidak disukai dan alasannya, negara apa yang paling ingin kamu kunjungi dan kenapa, momen awkward yang paling diingat, kalau bisa menjadi selebriti ingin menjadi siapa dan kenapa, tradisi keluarga yang paling disukai, jenis minuman yang lebih disukai (coffee/tea?), superpower apa yang ingin dimiliki jika bisa memiliki superpower, dan 3 buku favorit yang paling merubah hidup. Selain memberikan clue kepada peserta yang lain tentang personality mereka, di sesi ini juga peserta diharapkan bisa menerima aspek-aspek dirinya apa adanya dan berani memberitahukannya ke orang lain.

Setelah ice breaking selesai, Devina pun membuka sesi sharing session dengan pengalaman hidupnya sendiri mengatasi trauma batin karena kejadian dalam hidup. Dari cerita Devina yang menyentuh inilah, peserta yang lain mulai bergantian menceritakan kisah trauma batin yang dialami.

Delima*, adalah gadis manis dan langsing yang mempunyai warna kulit yang agak berbeda dengan teman-teman di sekolahnya. Ia harus menghadapi ejekan yang terus menerus tentang bentuk tubuh dan warna kulitnya selama bersekolah di tempat tersebut, termasuk dari para teman-teman lelakinya. Hingga sampai sekarang, ia belum mampu mempercayai, mempunyai rasa ketertarikan, atau mempunyai keinginan menjalin hubungan atau mengenal lebih dalam laki-laki yang mempunyai ras, suku dan nasionalisme yang sama dengan teman-teman sekolahnya tersebut. Ia bahkan jadi sering merasa tidak mempunyai kelebihan apa-apa dan masih sulit untuk mencintai dan menerima dirinya apa adanya. Ketika menceritakan ejekan yang dialaminya dan efeknya, ia bahkan sampai menangis sesenggukan di acara ini.

Wefina* adalah seorang perempuan tekun dan fokus yang suka belajar, membaca, dan memiliki keseriusan yang melebihi orang-orang disekitarnya. Ia selalu merasa “aneh” karena tidak mampu memiliki hubungan yang hangat dengan banyak orang. Walaupun aktif mengikuti berbagai komunitas, ia hanya mempunyai teman dekat 1-2 orang saja. Selain sedikitnya orang yang ia bisa merasa dekat, ia juga merasa bahwa banyak orang di sekitarnya yang dingin dan memperlakukannya secara berbeda. Ia bahkan pernah diancam dan diintimidasi oleh teman sekelasnya untuk memberitahukan jawaban soal ujian. Jika ia tidak mau melakukannya, maka ia akan dikucilkan. Sikap orang-orang sekelilingnya ini membuat Wefina merasa ada yang aneh dengan dirinya. Ia kerap mencari tahu lewat psikolog apa yang membuatnya aneh. Diagnosis dari seorang psikolog bahwa ia mempunyai self-acceptance issue (masalah kesulitan menerima diri sendiri apa adanya) membuatnya semakin down dan tidak semangat. Akhirnya, lewat konsultasi dengan psikolog lain, ia didiagnosis mempunyai self-esteem issues (masalah kepercayaan diri). Hal inilah yang sedang diusahakannya untuk diselesaikan, dengan selalu memperbaiki dan membuka dirinya.

Kay* adalah seorang perempuan yang seringkali mendapat komentar tentang bentuk tubuhnya. Ia sempat diet mati-matian untuk mencapai berat badan yang diinginkannya. Namun, ketika berat badannya kembali naik, insecurity ini dimanfaatkan oleh seorang pacarnya. Dua tahun Serena menjalin hubungan dengan lelaki ini secara diam-diam dari orangtuanya.  Ia selalu memanggil Kay dengan pujian-pujian yang membuatnya melambung. Namun, di lain pihak, ia juga selalu mengontrol Kay dengan melarangnya bergaul dengan laki-laki lain. Ketika Kay harus berurusan dengan lelaki lain untuk urusan kegiatannya, sang mantan pacar meledak. Ia menghubungi orangtua Kay, bahkan memposting semua foto-foto mesra Kay dan dirinya dalam keadaan yang sangat intim. Foto-foto itu diposting di akun sosial media Kay yang passwordnya semua sudah diketahuinya. Semenjak peristiwa pembajakan sosial media tersebut, Kay masih sangat trauma untuk menjalin hubungan dan sulit memaafkan mantan pacarnya. Hal tersebut juga membuatnya kurang bisa mempercayai laki-laki yang mempunyai ras yang sama dengan sang mantan pacar dan mempunyai rasa benci yang masih tersisa untuk mantan pacarnya.

Nila* adalah gadis Sumatera Barat yang cerdas. Namun semua kecerdasannya terasa tidak berguna ketika keluarganya selalu mengukur kesuksesannya dengan seberapa mampu ia membuat badannya lebih langsing. “Gimana, kapan kurus? Supaya bisa dapat pacar…” adalah komen yang kerapkali didengar Nila.

It’s so touching to listen to CeweQuat members sharing their story. Ternyata efek abuse yang berlangsung terus menerus, menimbulkan trauma yang sangat dalam di dalam diri anggota CeweQuat yang mengalaminya. Dari Table Talk, ini kita bisa belajar betapa kuatnya efek yang ditinggalkan dari kata-kata dan perlakuan yang tidak baik.  Mudah-mudahan cerita para anggota CeweQuat menyadarkan teman-teman semuanya akan pentingnya perkataan dan perlakuan yang baik kepada sesama manusia.

Sharing session ini berlanjut dengan sesi Love Yourself”.  Setiap peserta mengambil pertanyaan yang berada di toples Love Yourself”. Disini, peserta menjawab pertanyaan-pertanyaan yang lebih dalam dari sekedar pertanyaan “permukaan” di sesi ice breaking. Contohnya saja: apa yang akan kamu lakukan jika mendengar cerita pengalaman traumatis dari temanmu, apa yang ingin kamu ubah dari keluarga, lima hal yang paling kamu sukai tentang dirimu, apa yang paling membuatmu kecewa tentang keluarga, apakah kamu pernah menjadi bully/abuser, apakah trauma terbesar yang dialami dalam hidupmu, apa yang membuat kamu sakit / terluka, seberapa emosionalkah dirimu, apa yang ingin kamu protes dari hidupmu,  dan sebutkan tiga bakat yang kamu miliki.

Setelah sesi ini sharing selesai, Table Talk pun ditutup dengan sesi tanya jawab. Peserta dipersilakan menulis pertanyaan yang ada di kepala mereka untuk melanjutkan diskusi. Disini, diskusi mulai meluas mulai dari seks di luar nikah, perbedaan pandangan, tips ketika pikiran dan emosi mulai merasa terpuruk dan terburuk, fenomena friends with benefits, bagaimana cara mencintai diri sendiri apa adanya saat kita tidak tahu kelebihan kita, bagaimana cara memaafkan orang yang telah melakukan abuse kepada diri kita, sampai bagaimana caranya agar lebih bisa terbuka kepada orang lain ketika kita sulit memercayai orang lain.

Saling mendengarkan dan berlatih empati, saling memberi pendapat dan masukan, serta belajar menerima saran dari orang lain, adalah beberapa hal yang bisa didapatkan anggota CeweQuat lewat acara Table Talk. Kamu berniat bergabung juga? Next ini ada beberapa sesi yang berlangsung bersamaan di beberapa kota sekaligus tentang ‘Healthy Relationships’. Yuk cek langsung di Instagram CeweQuat: http://www.instagram.com/ceweQuat

*: Nama disamarkan.                                          





0 Comment




Welcome to the community

CeweQuat adalah forum online dan komunitas perempuan. Di sini kamu tidak hanya berjejaring dengan ribuan perempuan hebat lainnya, namun juga dapat mengekspresikan karya - karyamu. Bergabunglah untuk menjadi perempuan berdaya!
  981
  26/03/2017

Top Member

Indy Sumaryo

33
Melita Rahmalia

32
Jastitah Nurpadmi

4
Ferni Annisa

3
Mona Sarito Siagian

2

FX Sudirman, Jalan Jenderal Sudirman, Pintu Satu Senayan, Senayan, RT.1/RW.3, Gelora, RT.1/RW.3, Gel

NEWSLETTER